Senin, 05 Oktober 2009

The Golden Ticket

(Ini adalah artikel favorit qw,, udah diterbitkan d wordpress IJSO n Note di FB qw.. Hhe.. Add my FB ia,, noeranie_iq77@yahoo.co.id.. :)

Tiket ke Bandung untuk mengikuti IJSO bagaikan Golden Ticket seperti pada film Charlie & the chocolate factory. Banyak orang yang menginginkannya begitu pula aku.
Sekolahku, SMPN 1 Subang, termasuk salah satu sekolah yang ditunjuk oleh dinas agar mengirimkan siswanya untuk mengikuti seleksi IJSO. Guru-guru di sekolahku giat memilih siswanya. Lalu, dipilihlah 4 orang yang memenuhi syarat dari pembinaan OSN di sekolahku. Dan beruntung, salah satunya adalah aku.
Hari yang dinanti pun tiba, aku & 3 orang temanku pergi ke Bandung untuk melaksanakan seleksi. Berulang kali guruku berkata, “Jangan terlalu ambisius, Nak! Tak apa kalau tak berhasil. Kabupaten Subang memang belum pernah masuk IJSO..” katanya. Sempat ada rasa pesimis dalam diriku. Namun ku tetap berusaha untuk menjadikannya sebagai motivasi.
Namun malang, kami datang terlambat. Seleksi sebentar lagi dimulai dan yang lebih parah lagi, kursi kami telah ditempati siswa lain sehingga kami dilarang masuk. Dengan rasa takut, cemas, kecewa dan kesal kami berempat berdiri menunggu di depan pintu masuk. Guru kami terlihat bersikeras memasukkan kami. Akhirnya setelah beberapa menit, ada juga bersedia dikeluarkan itupun dengan negosiasi yang cukup panjang. Saat itu yang kurasa hanya takut & cemas. Bagaimana tidak? Kasihan sekali orang yang menempati kursiku tadi. Ia harus pulang tanpa sempat mengikuti test. Tapi, apa dayaku?? Aku hanya berusaha mengikuti test dengan baik dan tak kusangka hari itu merupakan titik awal bagiku untuk menggapai kesuksesan.
Tepatnya hari Selasa, saat aku tengah mempersiapkan untuk seleksi OSN tingkat Kabupaten esok harinya, guru fisikaku, Pak Aang (we love u..) dengan sedikit berteriak berkata, “Nurani… kamu masuk pembinaan IJSO!! Hari Jumat kamu pergi ke Bandung selama 1 Bulan..!!”. Aku ternganga. Benar-benar kaget. Antara senang dan ragu. Selama 1 bulan aku meninggalkan kota Subang?? Bagaimana bisa?? Tapi, ini merupakan satu KESEMPATAN.
Banyak sekali yang aku korbankan untuk mengikuti IJSO ini. Dari mulai majalah sekolah yang belum selesai kurampungkan, serah terima penghargaan dari bupati dalam rangka Hardiknas, sampai lomba siswa berprestasi tingkat Provinsi yang seharusnya aku ikuti tanggal 4-7 Mei. Namun, semua itu kukorbankan demi mengikuti ajang bergengsi ini.
Di Bandung ternyata sangat menyenangkan. Bertemu dengan 44 anak cerdas se-Indonesia membuatku betah tinggal disana. Apalagi dengan beragamnya bahasa mereka. Satu yang kutemukan disana adalah: Anak pintar juga suka tidur di kelas (maaf, Fif..!). Ya iyalah, anak IJSO juga kan manusia.. Hhe.. Apalagi dengan waktu belajar yang cukup padat dan rasa kebersamaan yang tinggi sehingga tak jarang kami tidur larut sekali. Tapi itu tidak sebanding dengan betapa luar biasanya kecerdasan anak-anak IJSO disini. Ilmu bekalku terasa belum cukup dan itu yang membuatku termotivasi untuk belajar dan belajar. Saat praktikum di laboratorium ITB pun merupakan momen yang paling kusuka. Waktu piknik, waktu belajar, waktu kuliah malam, sampai waktu testing yang sering terganggu oleh musik senam di luar gedung sungguh berkesan bagiku.
Dan peristiwa yang penting lagi yaitu waktu aku jatuh sakit. Entah karna pola makanku yang buruk, entah karena pertengkaranku dengan Aulia, teman sekamarku. Ya, waktu itu kami bertengkar karna suatu persoalan dan esoknya saat aku bangun tidur, aku merasa tidak enak badan. Aulia dan Avi, teman sekamarku dengan sabar merawatku dan memanggilkan bu Lubna. Teman-teman dari kamar lain pun banyak yang menjenguk. Aku merasa terharu dengan semua ini (terimakasih semuanya..). Setelah aku minta maaf pada Aulia dan dibawa ke dokter oleh Mas Agus dan Mbak Zim bersama Putu yang juga sakit, aku berangsur-angsur sembuh.. Tapi bukan aku saja yang jatuh sakit. Beberapa temanku juga terserang sakit, tapi sakit diare. Cukup banyak siswa yang terkena sampai-sampai dapat membentuk sebuah ‘komuntitas’ yang dijuluki ‘PADI’ alias Perkumpulan Anak Diare Ijso.. Hhe..
Sungguh pengalaman yang tak terlupakan. Selama sebulan, banyak sekali cerita dan pelajaran berharga yang kutemui. Minggu terakhir, aku merasa tak ingin pulang. Aku ingin tetap disini, bersama teman-teman. Aku tidak ingin pulang..
Tapi, waktu akan terus berjalan. Akhirnya, 1 bulan berlalu, tibalah saat penutupan. Harapan terbesarku adalah masuk 6 besar. Namun Tuhan berkehendak lain. Aku berusaha menerima dan meyakini bahwa ini takdir terbaik. Saat film kenangan diputar, tawa masih menyertaiku. Tapi, airmata tak terbendung kala aku dan teman-teman bersalaman dan berpelukan tanda perpisahan. Kami yang selalu bersama selama 1 bulan dari pagi hingga malam harus berpisah. Entah kapan kami bertemu lagi. Aku menangis bukan karena tidak mendapat kesempatan ke Azerbaijan. Biarlah aku tak masuk 6 besar. Jika aku belum pantas menyandang nama Indonesia di ajang Internasional, biarlah orang lain yang lebih pantas asalkan Indonesia tetap berjaya. Karna tujuanku bukan ingin menunjukkan “INI SAYA” tetapi “INI KAMI”, anak Indonesia yang membanggakan.
IJSO 2009 Indonesia, Sukses!! Bwd tmn2 I love u.. n bwd yg trpilih, medh b’juang,ya…